Selain tentang solidaritas sesama umat, hikmah penyembelihan hewan qurban juga bermakna agar kita juga mampu menyembelih nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia sehingga setiap muslim bisa menjadi pribadi yang humanis, shaleh dan taqwa. Demikian disampaikan Alwi Sahlan, Aktivis Pergunu Depok.
"Sifat-sifat binatang inilah yang harus kita sembelih atau kita buang jauh-jauh. Sifat licik, amarah dan berperilaku buas, egois terhadap sesama dalam memenuhi ambisi inilah yang harus disembelih dan buang jauh-jauh. Jangan sampai sifat-sifat buruk binatang buas tersebut bercokol dalam alam pikiran dan hati umat muslim dan bangsa Indonesia," kata Sahlan, Rabu (29/7).
Aktivis Guru ini melanjutkan, bahwa syariat berkurban memiliki akar sejarah panjang yang bisa dilacak dari zaman Nabi Adam AS, yaitu ketika beliau memerintahkan kepada kedua putranya Qabil dan Habil mempersembahkan pengurbanan yang terbaik kemudian di era Nabi Ibrahim AS hingga nabi besar Muhammad SAW. Bahkan alhasil pengorbanan baginda suci saww adalah yang terberat dan terbesar dan tidak ada bandingannya karena ia mengurbankan manusia suci dan merelakan kepergian cucunda Husein bin Ali yang dizalimi dan dibantai oleh para generasi celaka pecinta dunia dan kekuasaan..
Kembali kepada refleksi Qurban yang diterima oleh Allah SWT adalah qurban yang dilandasi dengan semangat keikhlasan dan ketaqwaan, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan oleh Habil, yang menyiapkan seekor domba besar dan bagus untuk dikorbankan.
Sedangkan qurban Qabil ditolak, lantaran dilakukan tidak dengan ikhlas. Qabil yang terbakar dengan emosi kemudian membunuh saudaranya sendiri, Habil. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal dengan kejadian pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia.
"Bahwa nafsu amarah, nafsu kedengkian telah membutakan mata hati manusia dapat membuat manusia menjadi buas terhadap sesama. Tidak jarang manusia tega mengorbankan manusia lainnya hanya untuk memenuhi syahwat dan ambisi kekuasaan. Jika nafsu dengki, amarah dan buas tersebut tidak disembelih, maka bukan mustahil kekacauan dan eksploitasi manusia terhadap manusia masih dan akan terus berlangsung serta dapat menimbulkan kekacauan suatu bangsa atau masyarakat dunia," kata Sahlan
Situasi yang terjadi di masyarakat Arab pra Islam adalah situasi yang memprihatinkan. Praktek dehumanisasi termasuk mengorbankan manusia hidup-hidup menjadi pandangan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW datang menghapus kebiasaan biadab tersebut. Bahwa tradisi mengorbankan manusia dengan dalih dan alasan apapun dalam peradaban umat manusia saat ini adalah perbuatan yang tidak berperikemanusiaan dan tidak dapat ditolerir.
Semangat berqurban juga bisa diterapkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap komponen bangsa harus mengorbankan egoisme pribadi, kelompok dan golongan dan tidak memaksakan kehendak apalagi bersikap brutal terhadap sesama dengan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan dan ambisinya.
"Inilah spirit qurban yang harus kita pahami. Mudah-mudahan dengan spirit Idul Qurban ini bangsa Indonesia dapat menjalani kehidupan kebangsaan yang humanis dan penuh solidaritas sesama bangsa Indonesia dan warga dunia" demikian kata Wakil Aktivis guru itu.
Refleksi Qurban di Pandemi Covid
Di tengah wabah pandemi ini adalah pengorbanan terbesar bangsa ini menghadapi wabah besar ini untuk keluar dari keterpurukan. Berapa banyak kerugian baik materi maupun immateri, hampir semua lini dan bidang kehidupan turut terpukul dan merasakan imbasnya.
Namun sedahsyat apapun efek merugikan itu sebagai umat yang beriman seyogianya kita mengambil hikmah dan ibroh di balik itu. Karena ciri manusia yang beriman dan bertakwa adalah mereka yang mampu melihat suatu musibah dan bencana sebagai hikmah. Bahkan sila keempat pancasila mewajibkan kita untuk mendayagunakan hikmah dalam kebijaksanaan atas segala kejadian apapun. Karena inilah yang telah dicontohkan oleh para founding fathers bangsa ini yaitu mengambil keputusan dengan hikmah kebijaksanaan di tengah perbedaan.