Republikanews.online - Aksi brutal berujung penganiayaan yang dilakukan sekelompok orang pada acara adat keluarga Midodareni atau kegiatan sebelum acara pernikahan di Pasar Kliwon, Kota Solo, Jawa Tengah pada 8 Agustus 2020 kemarin. Tiga warga solo diserang ketika mengadakan acara midodareni, tidak sampai di situ mereka juga merusak sejumlah kendaraan yang ada di lokasi.
Menyikapi insiden ini, apapun alasannya sikap pelaku yang menggunakan atribut agama tertentu ini sangatlah tidak elok.
Aksi barbar oleh kelompok intoleran ini bukanlah sikap seorang beragama meskipun mereka mengenakan atribut agama tertentu. Seorang muslim ketika menyikapi perbedaan tidak boleh menggunakan cara cara kekerasan yang sangat dilarang, dalam agama manapun sangat tidak dibenarkan.
"Agama ini agama rahmat, agama kasih. Nabi tidak turun untuk menghakimi isi hati orang lain yang berbeda paham."
Alih alih terhadap mereka yang berbeda fiqh, yang keyakinan dan beda agamapun kita dituntut untuk tetap menggunakan akhlak dan cara cara yang baik.
Insiden ini sangat sangat memalukan dan mencoreng wajah kami ummat islam indonesia yang kini sedang giat mempropagandakan islam rahmat yang menghargai segala perbedaan.
Tenggang Rasa, Tepo Seliro Ciri Islam IndonesiaBangsa kita terkenal ramah dan tepa selira serta pandai menenggang rasa.
"Bangsa kita merupakan bangsa yang ramah dan sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, hal ini merupakan cerminan sila kedua pancasila, serta sila keempat pancasila yang mengedepankan hikmah kebijaksanaan sebelum bertindak karena semua masalah harus diselesaikan lewat jalan musyawarah.
Apa itu tenggang rasa atau tepo seliro? Yaitu kemampuan menenggang rasa ego، amarah dan emosi manakala terjadi perbedaan yang berpotensi mengarah pada perselisihan dan perpecahan. Hal inilah yang mulai hilang dari diri kita bangsa indinesia lebih lebih ummat islam. Sehingga perlu kita hidupkan lagi budaya tenggang rasa ini di kalangan masyarakat merujuk kepada apa yang telah diteladankan oleh para founding fathers bangsa ini.. Jangan sampai nilai luhur ini hilang dari khasanah nilai luhur yang ada. Tetap hidupkan dan sosialisasikan terutama di kalangan para bunga bangsa harapan negeri. Sebab hanya inilah nilai berharga yang bernilai. Jangan sampai tercerabut atau rusak oleh ulah oknum sekelompok orang yang ingin mengacaukan republik ini. Mereka akan berhadapan dengan kami ummat islam penjaga kedaulatan NKRI. Kami akan pertahankan hingga titik darah yang penghabisan. Takbiir..!
"Bangsa kita dan para pendiri bangsa sudah mencontohkan di setiap ajang dan peristiwa mulai dari zaman majapahit, sumpah pemuda, pengambilan putusan perumusan dasar negara mereka tidak pernah membesar besarkan perbedaan yang ada, bahkan mereka senantiasa mengambil titik temu dan jalan tengah atas permasalahan yang ada."
Dakwahilah Mereka dengan Cara Yang Baik dan Elegan.
Bahkan di dalam alquran di katakan bahwa kita diuntut untuk menyeru dengan cara yang baik tidak brutal. Allah swt berfirman annahl 125 :
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Arab-Latin: Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil-ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan, inna rabbaka huwa a'lamu biman ḍalla 'an sabīlihī wa huwa a'lamu bil-muhtadīn
Terjemah Arti:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Hikmah merupakan cara yang baik, sopan baik perbuatan, sikap maupun perilaku harus mencerminkan hikmah. Hikmah ini tidak akan didapat kecuali dengan hati yang jernih.
Maka saya berkesimpulan para pelaku ini bukan representasi umat islam yang ditunjukkan dalam ayat ini. Mereka sudah keluar dari islam seperti anak panah keluar dari busurnya.
"Kami berlepas diri dari orang orang yang mengatasnamakan agama, main hakim sendiri dan berbuat kasar. Karena ini sesungguhnya bukan cara yang diteladani oleh para utusan Tuhan, oleh Baginda Nabi saw, bahkan ini adalah cara cara khawarij akhir zaman".
Artinya di dalam berdakwahpun jika terpaksa mengalami perdebatan kita juga tetap dutuntut untuk tetap mengedepankan akhlak dan adab. Kenapa demikian. Di samping dengan nasehat yang baik tidak mencela, memfitnah bahkan menghasut, hal itu adalah ciri kita ummat islam, hal itu akan dapat menarik simpati orang lain yang berbeda paham. Eksistensi mereka sebagai manusia tetap dihargai, itu jawabannya.
Urgensi Metode Dakwah ;
Kepada Firaunpun Musa Tetap diwajibkan Menunjukkan Adab
Menarik menyikapi insiden insiden serupa ini bahwa kita ummat beragama di dalam berdakwah dan berpropaganda kebaikan tidak boleh menghalalkan segala cara, meskipun objek dakwah kita itu adalah orang atau penguasa lalim. Bahkan kepada orang zalim sekelas Firaunpun Allah swt tetap mewajibkan Musa as menggunakan akhlak dan adab. Hal ini disitir dalam alquran Toha ayat 4, Allah swt berfirman :
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Arab-Latin: Fa qụlā lahụ qaulal layyinal la'allahụ yatażakkaru au yakhsyā
Terjemah Arti: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Artinya apa, kita ini memang adalah umat terbaik, jika ingin tetap dikatakan umat pilihan janganlah menghalalkan segala cara meski dakwah itu dilakukan terhadap manusia zalim dan kasar takabur sekelas firaun.
Mari kita berintrospeksi, apa yang salah pada diri kita ummat islam. Rekonstruksi makna pemahaman dakwah dan cara menyeru sangat urgen saat ini di tengah arus globalisasi media yang massif. Cara cara keras dan kasar justru akan mencoreng ummat islam sendiri dan amat tidak mencerminkan ajaran kasih baginda Muhammad saw.
Jika Engkau Kasar Dan Keras Hati Niscaya Mereka Menjauh
Alquran sudah mewanti wanti agar kita tidak menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam dakwah kita.
Allah swt berfirman dalam Ali Imran 159 :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
(Fabimaa rohmatim minalloohi linta lahum. Walau kunta fadhdhon gholiidhol qolbi lanfadldluu min haulik. Fa’fu ‘anhum wastaghfirlahum wasyaawirhum fil amr. Fa,idzaa azamta fatawakkal ‘alallooh. Innallooha yuhibbul mutawakkiliin)
Artinya:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya..
Jika kalian tetap berperilaku keras dan kasar niscaya mereka akan lari dari dakwah kalian.. Takut dan khawatirlah akan rusaknya dakwah kalian itu.. Nabi tidak pernah mencontohkan cara cara yang demikian dalam dakwahnya.
Kenapa demikian??
Karena kita adalah ummat pilihan..!
Alwi Sahlan, Jakarta Ahad, 09-08-2020