Agama Budaya-agama interpretasi : adalah agama yang tidak bersumber pada wahyu ilahi melainkan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Untuk sementara ini agama langit itu sudah terdistorsi, sudah tidak original. Berhubung jauhnya jarak antara penyampai wahyu Tuhan dengan kita sudah puluhan abad. Hal ini karena jauhnya jarak kita dengan para nabi dan rasul menjadi rancu pemahaman kita sekarang apakah sesuai dengan yang diinginkan atau tidak. Itulah yang menggelitik benak saya untuk menulis ini, bahwa agama langit itu sudah terdistorsi dengan campur tangan manusia, baik itu periwayatan yang mungkin bercampur dengan opini, bahkan belum lagi opini itu dikendalikan oleh otoritas politik, pasti hasilnya juga akan dioengaruhi oleh kepentingan politik.
Jika ada orang yang mengklaim bahwa ajaran agamanya paling murni adalah non sense, karena ia tidak hiduo di zaman nabi, lha wong di zaman pasca nabi sendiri saja sudah banyak terjadi ikhtilafiyah apalagi sekarang? Sudah 15 abad lebih kita hidup jauh dari sumber wahyu ilahi. Dalam artian kita ini semua beragama seperti oranf buta, yaity hanya meraba raba mendekati kebenaran hakiki. Bagaimana bisa ada orang/kelompok yang mengklaim diri paling sunnah atau paling murni? Agama yang dklaim oleh para pengklaim adalah agama interpretasi. Jadi saya berkesimpulan bahwa agama samawi itu pudar seiring mangkatnya sang pembawa risalah.
Agama Wad'i atau agama ardhi adalah agama dunia (natural religion) yang tidak bersumber pada wahyuIllahi melainkan hasil ciptaan akal pikiran dan perilaku manusia, oleh karena disebut juga dengan agama budaya atau agama bumi.[1][2]Yang termasuk dalam agama wad’I adalah Hindu (Cuman Mau Ngasih Tau Sebenarnya Sistem Kepercayaan Asli Hindu Adalah Monoteisme, Yang Menyampaikan Adalah Para Resi Yang Mendapat Wahyu Tuhan Yang Disebut Brahman Atau Di Indonesia Disebut Hyang Widhi Wasa. Dan Wahyu Tersebut Di Sampaikan Para Malaikat Tuhan Yang Biasa Disebut Sebagai Deva Atau Dewa, Cuman Seiring Berjalan Waktu Mulai Tumbuh Sistem kepercayaan Yang Lain, Sehingga Hindu Dapat Dikategorikan Sebagai Setengah Agama Samawi Dan Agama Wad'i, Itupun Sesuai Sistem Kepercayaan Nya Bila Monoteisme Maka Agama Samawi Dan Bila Yang Lain Adalah Agama Wad'i) Buddha, Taoisme, Kong Hu Cu (Kung Fu Tse), Shintodan berbagai aliran keagamanan lainnya.[1][2]

Agama
Buddha adalah salah satu dari banyak agama Wad'i di dunia.
Agama Wad'i lahir dari filsafat masyarakat, baik yang berasal dari para pemimpin masyarakat ataupun dari para pengajar agama yang bersangkutan.[3] Agama ini berkembang pada masyarakat yang memliki tingkat solidaritas mekanik atau pada masyarakat yang masih memeliki pola berpikir yang tradisional.[4]
- Konsep ketuhanannya tidak monotheisatau tidak hanya memiliki satu Tuhan.[3]
- Tidak disampaikan oleh nabi atau rasulsebagai utusan Tuhan.[3]
- Kitab sucinya bukan berdasarkan wahyu Tuhan.[3]
- Kebenaran ajaran dasarnya tidak tahan kritik terhadap akal manusia.[3]
- Ajaran agama tidak terpisahkan engann adat istiadat dan kebudayaan dari penduduk.[4]
- Sesuatu yang disembah adalah dewa-dewi, roh-roh, ataupun kekuatan alam lainnya, seperti api,air,atau Matahari.[4]
Agama filsafat
Agama filsafat adalah agama akal. Karena dalam filsafat manusia dituntut untuk mengoptinalkan akal dan nalar dengan metode berpikir kritis(tidak menerima mentah mentah secara dogmatis), reflektif(merenungkan), dan radikal(secara rinci dan mendalam) terhadap semua hal dan keadaan. Jadi agama filsafat adalah agama yang mengedepankan akal dan refleksi-kritis ketika menghadapi setiap kasus kehidupan dalam membaca gejala dan fenomena. Bagi yang menganut agama filsafat, filsafat digunakan sebagai perangkat kritis untuk membaca gejala dan fenomena. Saya contohkan ketika terjadi gempa, maka orang yang berkiblat pada agama filsafat bukan menjadikan agama sebagai pengadilan moral, namun ia menjadikan ini adalah sebagai penjawab gejala dan fenomena untuk mengeksplorasi dan bereksperimen lebih jauh, meyakini bahwa ini adalah sebuah tantangan untuk menemukan jawaban atas fenomena tersebut yaitu dengan membuat bangunan tahan gempa misalnya, atau mengadakan penelitian tentang wilayah wilayah mana yang layak dan tidak layak ditempati karena berpotensi gempa. Gempa di Palu barusan adalah contoh lemahnya kemampuan riset kita mengidentifikasi wilayah yang menurut ilmuwan barat adalah tempat yang tidak layak ditempati. Pendeknya fungsi filsafat adalah mengidentifikasi dan mengeksplorasi telaah kritis dan radikal terhadap segala gejala dan fenomena.
Filsafat akan membuat agama tidak berhenti menjadi kumpulan dogma. Jangan bayangkan filsafat sebagai barang abstrak yang mengawang-awang di langit. Dia adalah metode berpikir kritis-reflektif-radikal terhadap semua hal dan keadaan. Filsafat bukan sekadar ‘omong kosong’ metafisika yang membingungkan orang. Filsafat adalah perangkat kritis untuk membaca gejala dan fenomena. Bahkan filsafat menuntun kita berpikir kritis terhadap pikiran kita sendiri. Pertama-tama, filsafat memberi tahu bahwa cara kita melihat gejala dan fenomena selalu mengenakan kacamata. Kacamata itu nama ilmiahnya paradigma atau mazhab. Kacamata itu ada yang sifatnya apriori alias bawaan dan ada yang aposteriori setelah pengenalan. Ini pandangan Immanuel Kant (1724 – 1804). Unsur apriori-nya adalah ruang dan waktu yang tidak bisa ditolak sebagai faktisitas. Unsur apriori ini terbawa sebelum kita melihat kenyataan. ADVERTISEMENT Untuk apriori ruang, posisiku di sini dan posisimu di sana akan menghasilkan sudut pandang berbeda dalam melihat kenyataan. Dalam politik, kubu sini dan kubu sana akan memperoleh ‘tangkapan’ yang berbeda dari suatu keadaan. Diperbesar, orang Barat dan orang Timur punya bawaan apriori yang membuat mereka cenderung melihat sesuatu secara berbeda. Diperkecil, orang Papua dan Jakarta punya bawaan perspektif berbeda melihat masalah. Poinnya, filsafat mengajarkan relativitas tangkapan gambar karena apriori ruang. Relativitas itu diakui dan dirayakan. Bentuk lain apriori adalah waktu. Anda pasti pernah dengar pernyataan, “setiap zaman punya ukurannya sendiri.” Ukuran kebenaran, kebaikan, dan keindahan itu relatif. Apa yang benar, baik, dan indah bagi masa lalu belum tentu bagi masa sekarang. Artinya kebenaran, kebaikan, dan keindahan itu tidak absolut. Di titik ini kita perlu berterima kasih kepada Kant yang telah mengoreksi apriori rasio universal Cartesian. Descartes (1596-1650), pencetus Cartesianisme, disebut sebagai bapak filsafat modern, sekaligus bapak absolutisme (kebenaran absolut, kepastian absolut, metode absolut) berbasis rasio. Dampak pemutlakan itu adalah narasi tunggal, berlaku universal. Dalam pengetahuan, Cartesian menjelma dalam positivisme (August Comte - Ernst Mach). Dalam politik, menjelma dalam totaliterisme (Hegel-Müller). Ekonominya liberalisasi (Adam Smith). Politiknya demokrasi (Locke-Rousseau). Administrasinya Weberian (hirarkis-sentralistis). Manajemennya Taylorisme (efisiensi). Intinya adalah resep-resep tunggal, berlaku universal. Ibarat kata, teh botol-panadol (apa pun makanannya, teh botol minumannya; apa pun sakitnya panadol obatnya). Kalau mau maju, ikuti Barat (eurosentris). Tempuh rutenya, ikuti metodenya. Kita berterima kasih kepada Kant yang telah membongkar dogmatisme rasio Cartesian. Kita berterima kasih kepada Marx yang telah memperingatkan bahaya resep tunggal kapitalisme; Lenin yang menyadarkan risiko imperialisme kapitalisme; Teori Kritis Mazhab Frankfurt yang membeberkan patologi modernisme; Mercuse yang menyingkap tabir gelap demokrasi; dan Habermas yang mempertajam teori kritis Kant. Tidak lupa, kita perlu berterima kasih kepada para filsuf posmodernis. Meski banyak pemikirnya ‘sinting’ karena memikirkan hal-hal yang tidak lumrah (Nietzsche, Foucault, Derrida) tujuan mereka jelas: menolak narasi tunggal merayakan keragaman; menolak dogmatisme-postivisme, menentang universalisme.
Lalu apa urusan ‘ngalor-ngidul’ ngomong filsafat ini dengan agama? Kalau di Barat ada pemutlakan rasio selepas kungkungan seribu tahun abad gelap, di belahan dunia Islam sedang berlangsung pemutlakan agama dengan menolak filsafat. Kritikus keras filsafat adalah Imam al-Ghazali. Tetapi, karena kritiknya sangat filosofis, para pengikutnya terbuka kepada filsafat. Yang menolak mentah-mentah adalah Ibn Taymiyah dan pengikutnya yang kelak menjelma dalam Wahabisme. Mazhabnya kebenaran tunggal. Agama isinya dogma. Metodenya halal-haram, benar-salah. Paradigmanya absolut. Sudah pasti menolak filsafat karena dianggap merusak akidah. Narasi tunggal ini diminati orang-orang eksak yang terbiasa berpikir positivistik. Slogannya ala teh botol-panadol Cartesian: apa pun masalahnya, agama jalan keluarnya. Apa pun soalnya, khilafah solusinya. Paradigma narasi tunggal begini bahaya untuk masa depan peradaban.
Saya menyimak khutbah Jumat belakangan ini. Temanya soal gempa dan bencana. Intinya khatib loncat ke agama, bicara soal azab dan sebagainya. Bagi saya, ini risiko beragama sebagai dogma. Kalau agama adalah nalar (ad-dîn aqlun), mestinya gempa dijadikan objek untuk mengeksplorasi pengetahuan kebumian sehingga melahirkan ilmu geologi. Gempa adalah ayat Allah untuk menghasikan ilmu, bukan loncat ke pengadilan moral. Agama perlu membersamai sains dalam menjelaskan kenyataan sehingga yang lahir bukan cacian gusar para pembela agama yang tidak paham caranya.
Saya jelas menolak agama berhenti sebagai kumpulan dogma. Dalam Islam yang saya pahami, komponen dogma yang sifatnya qath’i absolut hanya 30 persen. Selebihnya disisakan Allah untuk organ paling mulia yang diciptakan-Nya: akal. Kita perlu belajar filsafat agar tidak dogmatis dalam beragama, dalam berilmu pengetahuan, dan bahkan tidak dogmatis terhadap pikiran dan persepsi kita sendiri. Melihat gejala dogmatisme agama sebagaimana terekam dalam banyak survei, saya kira semakin mendesak filsafat dan metode filosofis diperkenalkan sejak dini. Pesantren juga perlu mengenalkan kitab filsafat kepada santri. Kitab Ibn Rusyd, Fashl al-Maqâl fî Mâ baina al-Hikmah wa asy-Syarî‘ah min al-Ittishâl, yang dibuat untuk sedikit mereparasi damage serangan Imam al-Ghazali bisa dijadikan pengantar. Dalil pertama yang dikutip Ibn Rusyd agar orang Islam belajar filsafat adalah ayat: Fa‘tabirû yâ ulil abshâr (ambillah pelajaran wahai orang-orang yang punya nalar). Dulu Islam mengalami zaman emas pada masa Khilafah Abbasiyah abad ke-9 - 13 M karena buku-buku filsafat, bukan kitab-kitab fiqih. Di tengah dogmatisme agama dan dominasi pendekatan fiqih, filsafat perlu dijunjung tinggi lagi.
nu.or.id
Alumni Magister PPkn STKIP Arrahmaniyah Depok